Travel

Tips Traveling Irit Bagasi dan Minim Sampah

Yang dicari orang lewat traveling umumnya adalah perasaan ringan dan pengalaman menarik di perjalanan. Namun, momen berharga itu jangan sampai mengacuhkan pentingnya memerhatikan lingkungan.

Tren traveling ramah lingkungan makin mengemuka belakangan, terutama setelah isu perubahan iklim terus mendesak untuk lebih diperhatikan. Greta Thunberg, aktivis lingkungan remaja asal Belgia, menekankan pentingnya semua orang berpartisipasi mengendalikan jejak karbon dan sampah yang dihasilkan.

Terdengar isu yang berat, tapi sebenarnya Anda bisa berperan lewat hal-hal sederhana. Salah satunya mengirit isi koper atau ransel Anda.

Arsitek sekaligus blogger Asri Puji Lestari mengaku bisa membawa hanya satu koper ukuran kabin, tiga extra bag, dan satu tas selempang untuk dibawa berlibur hingga 17 hari. Bawaan minimal itu dibawa saat berjalan-jalan ke Korea Selatan, beberapa waktu lalu.

“Sebelum traveling, kita harus tahu mau ke mana nih. Kalau ke pelosok banget, otomatis harus dipersiapkan lebih banyak. Tapi, kalau ke kota, yang bisa beli di sana, beli di sana saja,” kata perempuan yang akrab disapa Atit dalam acara Travel More, Waste Less, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Pemilik akun Instagram @atiit itu mengatakan, kunci menghemat isi bagasi adalah kemampuan memadupadankan busana agar tak terlihat memakai itu-itu saja. Ia juga terbiasa membeli pakaian model basic yang mudah dikombinasikan dengan menciptakan ragam gaya.

Hijab pun disesuaikan dengan busana yang dipakai. Warna netral lebih disarakan agar tetap bisa dipadu padan. Dengan begitu, ia bisa menghemat bagasi lebih banyak.

Tips lain untuk menghemat pakaian adalah memilih penginapan yang menyediakan mesin cuci. “Jadi, di sana kita bisa nyuci baju, terutama dalaman, agar bisa dipakai ulang,” ujarnya.

Upaya Minim Sampah

Meski sedang traveling, Atit tak lupa merawat wajah. Untuk menghemat tempat, ia selalu mengemas kembali produk ke kemasan kecil dengan jumlah secukupnya. Ia juga membeli produk yang bisa multifungsi dan ramah lingkungan.

Di antaranya lipstik yang juga bisa digunakan sebagai eyeshadow dan blush on, sabun bebas minyak, dan pewangi agar juga bisa berfungsi sebagai sampo, hingga kapas reusable. Semua produk ditempatkan dalam pouch agar rapi.

“Kalau memang bisa bawa sendiri, ya bawa sendiri, jadi kita nggak harus selalu menggunakan toiletries yang disediakan hotel,” ujarnya.

Atit juga membawa produce bag agar bisa menyimpan pakaian kotor dengan rapi. Tas ekstra juga diperlukan untuk menampung oleh-oleh, walau ia mengaku bukan tipe traveler yang suka belanja.

“Buat aku pribadi, penting untuk tahu karakter traveling aku. Kalau aku traveling ya buat dinikmati, bukan untuk OOTD. Itu bukan nilai hidupku,” ujarnya.

Selain soal pakaian dan toiletries, ia juga membawa serta tumbler, stok makanan, kotak bekal, dan cuttlery. Stok makanan olahan, kata Atit, bisa menghemat bujet liburan untuk jajan.

Kotak bekal juga bisa dipakai untuk menampung makanan yang tak habis. “Tentunya dipisahin dulu, untuk dimakan nanti,” kata Atit.

Comment here