Inspirasi

Dear Diriku Sendiri, Apapun Resolusi Tahun Ini, Semoga Satu per Satu Bisa Terealisasi

Ini bukan soal berlomba-lomba pamer resolusi di jagad dunia maya. Ini soal bagaimana #Resolusiku tahun depan berjalan…

Tahun ini, mungkin kamu merasa terlalu banyak keinginan yang tidak berbanding lurus dengan kenyataan. Kepalamu panas, pikiranmu jenuh. Ah iya, tubuh pun terasa ambruk. It’s okay, yang penting #Resolusiku tahun 2019 yang sudah direncanakan di tahun 2018 dan pernah dipikirkan matang-matang di 2017 tercapai. 

Ah tapi nggak juga kok. Nyatanya, #Resolusiku yang dibuat matang-matang dengan perencanaan detail saja malah kayak begini. Wacana aja, yang penting jadi dulu men.

Rasa iri pun tiba-tiba membakar diri, masa iya sih nggak bisa mencapai semua #Resolusiku itu? Apalagi, kehadiran media sosial justru memperparah suasana membanding-bandingkan diri dengan yang lain. Tiba-tiba, semua beranda lini masa terasa penuh prestasi foto yang belum tentu berdampak di jangka panjang. 

1. Soal membandingkan

Membandingkan diri dengan yang lain nggak akan ada habisnya. Pamer foto kesuksesan semu di Instagram, belum tentu memberi dampak jangka panjang. Namanya juga kesenangan semu, siapa yang menjamin? 

Jika #Resolusiku tidaklah sesempurna eksekusi resolusinya atau resolusi mereka, nggak apa-apa. Kamu, aku, dan pembaca di sini juga punya cara mengeksekusi #Resolusiku dengan sempurna. Sempurna dengan cara masing-masing. 

Kamu tidak sendiri, sayang.

2. Aku butuh…

Semua orang butuh sesuatu yang ia inginkan dan butuhkan. Jika kamu sudah punya kendali penuh atas diri sendiri, tentunya kamu tahu kapan mewujudkan keinginan dan kebutuhan. Apalagi, tidak semua keinginan sejalan dengan isi kantong. Tapi, mungkin semua kebutuhan bisa memenuhi isi kantong dan amalmu. Siapa tahu kan? 

Misalnya: Aku butuh kopi susu, padahal tubuh jenuh dan menolak itu. Aku butuh travelling untuk memenuhi isi konten Instagram, padahal keuangan kamu lagi berantakan dan bangkrut. Aku butuh kamera keren, padahal memotret dengan smartphone sudah cukup dan kamu butuh asah teknik dan rasa saja lho. Dan masih banyak “aku butuh….” lainnya~

Kalau “aku butuh” apa? Yuk tanyakan ke diri masing-masing dengan sadar ya! 

3. Pokoknya…

Pokoknya, semua #Resolusiku harus jadi dan ada hasilnya! 

Gengs! Badan juga perlu istirahat kali. Semua orang diberi waktu 24 jam, tapi hanya kamu sendiri yang tahu kapan pembagiannya yang tepat. 

Kalau kata “pokoknya” tertanam tidak sadar di kepala secara terus-menerus, maaf, mungkin nggak lama lagi kesehatan mental kamu akan sedikit tertekan. Nggak apa jika orang lain dan lingkungan di luar kendali yang menekan diri kamu, tapi kalau untuk diri sendiri? Jangan terlalu sering. 

Tubuh butuh istirahat. Kenali kebutuhan dan batasan diri kamu. Kalau kamu mudah lelah? Konsumsi makanan penuh protein, sayur, dan tetek-bengeknya. Kurangi gula. Kurangi zat-zat yang membuatmu lemas, mager, dan nggak bisa mikir. 

Jadi, kata “pokoknya… “ yang terlontar itu punya skalabilitas yang terukur. Gimana, gimana?

4. Permisi, maaf dan terima kasih

“Permisi, mungkin semua #Resolusiku tidak seindah yang kamu lihat. Mungkin, apa yang aku pos di media sosial, tidak semua kamu suka. Maaf ya, aku mungkin butuh kurasi konten lebih ketat lagi, agar aku tahu kapan harus benar-benar punya publikasi yang berdampak dan kapan harus ditahan. 

Terima kasih #Resolusiku, kamu mengajarkan aku untuk tidak rakus dan tahu kemampuan diriku.”

Ucapkan ini ke hati masing-masing. Siapa tahu, Yang Berkehendak menunjukkan jalan terang untukmu. 

5. Semoga dan semoga

Lalu, apa #Resolusiku tahun 2020 nanti? 

Semoga kini lebih baik dan nanti lebih baik lagi ya! 

Comment here