Inspirasi

Konsep Ghost Kitchen Membantu Sukses

Konsep Ghost Kitchen Membantu Sukses

Foro gratuito – Apa itu Ghost Kitchen? Restoran online, tentu ada sebagian yang tahu dan sebagian tidak, konsep Ghost Kitchen membantu sukses seseorang. Untuk memulai bisnis makanan, dulu seseorang harus memiliki uang puluhan hingga ratusan juta. Uang itu dipakai untuk modal mencari tempat strategis, membeli peralatan, mencari tenaga kerja, dan lainnya.

Namun perkembangan teknologi membawa perubahan drastis. Modal tersebut bisa dipangkas habis. Salah satunya melalui konsep ” ghost kitchen”. Dengan konsep ini, seseorang bisa berbisnis makanan dari rumahnya, dengan peralatan seadanya, kemudian memasarkannya secara online baik, melalui GoFood, GrabFood, atau aplikasi lainnya.

Seperti yang dilakukan Adithya Citra, pebisnis ayam geprek dengan merek Dapur GG. Ia memulai bisnisnya dengan modal Rp 1.000.000 di gang Jalan Sekepondok, Padasuka, Bandung.

“Dari bisnis ini, omzet saya sekarang Rp 200 juta per bulan. Kalau lagi ramai tembus Rp 240 juta sebulan,” ujar Adithya pekan lalu di Bandung. Sekilas gang tempat Adit berjualan terlihat sepi. Meski ukuran gang-nya kecil, namun ojek online sibuk berlalu-lalang di sana.

Bahkan mendekati jam makan siang, gang tersebut dipenuhi “ojol”. Sedangkan rumah di dalam gang itu terlihat sangat sibuk. Adit, -bsegitu biasanya Adithya dipanggil, mengakui, bisnis ayam gepreknya tumbuh dengan cepat. Ia mampu meraih omzet Rp 200 juta per bulan memasuki tahun ke empat. “Namun semua ini didapatkan melalui perjuangan yang luar biasa,” ungkapnya.

Jatuh bangun

Adit memulai usahanya pada 2012 dengan modal pinjaman bank Rp 6.000.000 untuk membuka rental play station. Hari demi hari, keuntungan yang dirasakan Adit kian besar. Ia pun tergiur untuk mengembangkan usahanya dengan meminjam uang lebih besar ke bank.

Adit kemudian membuka cabang rental play station. Gaya hidupnya pun mulai berubah. Dari mulai makanan mewah, gadget mewah, hingga kerap menggesek kartu kredit. Tak berapa lama, usaha yang dibangunnya mandek. Ditambah pencurian di rentalnya membuat usahanya rugi.

Puncaknya di tahun 2015. Ia kesulitan membayar utang. Meski memiliki dua cabang usaha, ia hanya makan nasi dengan terigu goreng. “Utang saya Rp 500 juta sedangkan kekuatan bisnis saya enggak bagus. Masa cicilan Rp 20 juta, pemasukan Rp 9 juta,” ucap dia.

Saat itu, lulusan Universitas Widyatama ini memutuskan untuk membangkrutkan diri. Ia jual semua aset, namun tetap tak bisa menutupi utang. Di waktu hampir bersamaan, Adit dilarikan ke rumah sakit karena sakit pencernaan. Begitu melihat tagihan rumah sakit, ia hanya bisa pasrah. Dalam struk tagihan tertera angka Rp 8.000.000.

Padahal, kala itu dia hanya mengantongi uang Rp 1.500.00. terpaksa, dia pun menerima bantuan dari saudara-saudaranya. Di tengah keterpurukan itu, Adit tersadar. Proses bisnis yang dijalankannya tidak baik karena riba. Ditambah perjanjian dengan investor yang merugikan pihaknya. Ia pun bertekad membuka usaha lagi dengan konsep, investasi “leher ke atas”.

Dia mulai belajar ke pengusaha mana pun, ikut pelatihan, komunitas, seminar, pelatihan, belajar, membaca, pokoknya investasi yang membuat dirinya pintar. Berbeda dengan investasi “ke bawah”, seperti pakaian, sepatu, tas, gadget, yang nilainya terus menyusut.

Ayam geprek

Adit kemudian membuka usaha ayam geprek yang terinspirasi dari sang kakak. Modal yang dikeluarkan Rp 1.000.000. Awalnya, ia menjual 20 varian makanan olahan dari ayam yang dulu belum booming di Bandung.

Hingga akhirnya ia fokus berjualan ayam geprek, dan menjualnya melalui BBM (BlackBerry Messanger) dan WhatsApp. Di tahun-tahun awal ini, ia menjalankan bisnisnya berdua dengan sang istri. Sehari ia bisa bekerja 14 jam.

Untuk menghibur diri, ia dan istrinya kerap jalan-jalan ke Jalan Suci yang berjarak kurang dari tiga kilometer dari rumahnya. “Abis jalan-jalan, nangis pelukan sama istri,” ungkapnya tertawa. Tahun 2017, ia dipertemukan dengan GoFood, kemudian dibantu promo gratis oleh GrabFood.

Cara ini membuat usahanya berkembang pesat. Dari omzet Rp 1.000.000 menjadi Rp 5.000.000. Di tahun 2019, utang Rp 500 juta yang melilit Adit lunas. Kini ia memiliki enam pegawai. Bisnis Adit yang dinilai seksi ini bisa dibilang tanpa modal. Karena untuk ayam, sembako, hingga gas ada yang menyediakan dan mau dibayar belakangan.

Dapur GG ini pun membuat bisnis di sekitarannya maju. Seperti warung-warung di sekitar Dapur GG ramai pembeli oleh pengemudi ojol.

Bon appeti

Keuntungan serupa dirasakan Rachma Okta (24), pemilik Bon Appetit yang menjual makanan Jepang, Mentai. Lulusan SMAN 5 Bandung ini mengaku memulai bisnisnya tanpa modal. Ia menggunakan rumahnya untuk memasak sekaligus memasarkan produknya melalui jejaring online.

Baginya, konsep ghost kitchen sangat membantu. Prosesnya lebih praktis, mudah, dan cepat. “Sehari saya bisa menjual 100-130 porsi. Kalau lagi promo bisa 200 porsi dengan harga produk berkisar antara Rp 25.000-165.000,” tutur dia. Keberhasilannya ini membuat Rachma membuka toko Mentai di Jalan Trunojoyo, Bandung. Rencananya, ia akan membuka lebih banyak toko di tahun ini.

Dari konsep Ghost Kitchen membantu sukses orang yang ingin maju dan menggunakan nya sebagai konsep penjualan secara online yang sangat maju. Marilah bangun pemikirian kita, gali terus peluang yang ada untuk membantu anda sukses juga.

Baca juga : Gaya Hidup Minimalis Bantu Tingkatkan Produktivitas

Comments (1)

  1. […] Baca juga : Konsep Ghost Kitchen Membantu Sukses […]

Comment here