Inspirasi

Sayembara Menjadi Raja

Sayembara Menjadi Raja

Terdapat sebuah kerajaan yang aman, adil, makmur, dan sentosa karena dipimpin oleh raja yang bijaksana.

Sang raja sudah memimpin kerajaan sejak usia muda hingga sekarang di masa tua belum pernah digantikan oleh siapapun, dan rakyatnya tak pernah keberatan karena sang raja memerintah kerajaan dengan cukup adil.

Sang raja ternyata bosan, ia ingin turun tahta dan mencari pengganti, namun uniknya ia tidak menyerahkan posisi raja kepada anak keturunannya, tetapi malahan mengadakan sayembara untuk mencari sosok yang pantas menjadi raja.

Disebarlah pengumuman ke seluruh negeri bahwa raja akan mencari pengganti, siapapun boleh menjadi raja, dari rakyat jelata sampai kaum bangsawan, dengan dua syarat yang harus dipenuhi.

Syarat pertama, siapapun yang terpilih hanya boleh menjadi raja selama lima tahun. Tidak lebih, tidak kurang.

Syarat kedua, setelah menjalani masa lima tahun, maka raja yang terpilih akan dibuang dan diasingkan di pulau seberang laut.

Syarat pertama tentu saja bukan masalah besar, namun syarat yang kedua adalah yang terberat, karena semua orang tahu seperti apa pulau seberang laut, yaitu sebuah pulau yang masih berupa hutan rimba liar dan penuh dengan binatang buas. Siapapun yang dibuang kesana sama saja dengan hukuman mati dan karena itulah meski sudah sekian lama, belum ada yang mengajukan diri menjadi raja.

Akhirnya suatu hari datang seorang pemuda yang menyatakan kesanggupannya menjadi raja dan menerima dua syarat tersebut.

Pemuda ini sebenarnya adalah pemuda biasa yang ingin merasakan bagaimana nikmatnya menjadi raja karena selama ini ia hidup pas-pasan dan setelah berpikir panjang lebar ia nekad untuk melamar menjadi raja.

Maka diangkatlah dia menjadi raja dan mulai saat itu ia akan mendapatkan pelayanan layaknya seorang raja, harta berlimpahwanita cantik, makan dan minuman enak dan fasilitas istimewa lainnya.

Tapi sayang, ternyata ketakutannya akan kematian membuatnya tak bisa menikmati semua itu.

Tahun pertama, dia mulai gelisah karena umurnya tinggal empat tahun lagi.

Tahun kedua, ia makin tak tenang, makan tak enak tidur tak nyenyak.

Tahun ketiga, ia mulai menyesali keputusannya menjadi raja.

Tahun keempat, ia benar-benar tak bisa menikmati apapun yang ada dihadapannya.

Tahun kelima, ia malah stress berat karena hidupnya tinggal beberapa bulan lagi dan kesenangan yang ia cari selama ini tak bisa ia rasakan.

Dan habislah masa jabatan dia menjadi raja, lalu dibuanglah dia ke pulau seberang laut.

Tak butuh waktu lama sampai kabar terdengar ke seluruh negeri jika pemuda itu tewas dimakan binatang buas. Pemuda itu tewas tanpa sempat mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dunia yang dia cari.

Adanya contoh yang tewas membuat orang orang kian enggan melamar menjadi raja, buat apa hidup enak lima tahun jika pada akhirnya harus mati. Tapi ternyata suatu hari ada juga orang yang melamar menjadi raja dan siap menanggung semua resikonya.

Tahun pertama, ia puas-puaskan berpesta karena sadar hidupnya tak akan lama lagi.

Tahun kedua dan berikutnya, ia isi dengan foya-foya, pesta pora, setiap tahun berganti pestanya makin gila-gilaan, ia sudah tak peduli lagi pada apapun, ia hanya ingin bersenang-senang sebelum mati.

Lima tahun berakhir, orang ini pun dibuang ke pulau seberang laut dan nasibnya sama dengan orang sebulummnya. Tewas dimakan singa.

Orang ini masih lebih baik, setidaknya ia mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dunia sebelum dia mati.

Dua orang tewas, membuat banyak orang melupakan mimpinya menjadi raja, meskipun mereka masih penasaran, apakah masih ada orang yang cukup bodoh untuk melamar menjadi raja.

Suatu hari datanglah seorang guru datang melamar untuk menjadi raja dan juga menyatakan kesanggupannya memenuhi dua syarat tersebut.

Mendengar ada yang melamar menjadi raja lagi membuat warga penasaran, sebagian menertawakan kebodohan guru tersebut sementara yang lain merasa iba dan kasihan padanya.

Tetapi, keputusan sudah dibuat, guru itu pun diangkat menjadi raja dan ia diberi segala kemewahan dan kemudahan serta fasilitas layaknya seorang raja.

Ternyata berbeda dengan dua orang sebelumnya, guru ini tidak berpesta pora dan foya-foya, ia tetap pada pola hidupnya semula yang sederhana, namun ia membuat beberapa tindakan selama ia menjadi raja.

Tahun pertama, ia kumpulkan seluruh pasukan kerajaan dan ia perintahkan pasukan itu pergi ke pulau seberang laut untuk membabat habis hutan rimba di sana dan memindahkan semua binatang di sana ke tempat lain.

Sebagai raja tentu perintahnya dipatuhi, dan begitulah akhirnya, di tahun pertama menjadi raja, ia telah membuat pulau seberang laut menjadi pulau kosong yang siap huni.

Tahun kedua, ia panggil para arsitek terbaik kerajaan, dan ia perintahkan mereka untuk membangun sebuah istana yang lebih megah dari istana yang ia tempati sekarang. Tahun kedua ia menjadi raja sebuah istana megah berdiri di pulau seberang laut.

Tahun ketiga, ia mengumpulkan harta, perabotan, dan barang barang lain dan ia kirim ke istana seberang laut.

Tahun keempat ia mengirim orang orang untuk menjadi pelayan dan pengurus istana, mulai dari tukang kebun, koki, tukang sapu, dan beberapa prajurit.

Tahun kelima ia mengirim keluarganya ke istana itu, dan ia meminta untuk sabar menantinya setahun lagi di pulau seberang laut.

Dan akhirnya, habislah masa jabatan dia sebagai raja dan sesuai perjanjian guru ini pun dibuang ke pulau seberang laut.

Ia hanya tersenyum dan berkata, “saya memang menunggu waktunya saat saya dibuang”.

Dan ia pun dibuang ke pulau seberang laut dan hidup bahagia bersama keluarganya di sana. Di sebuah istana yang mewah dan megah.

Comment here